“Semakin ke sini tren pakai jilbab kok tambah aneh aja ya, Kak?” tanya Lifah dengan raut wajah bingung.
“Maksudnya aneh gimana, sayang?” Hilda pun balik bertanya.
“Coba aja Kakak lihat, yang semula pake peniti di leher sekarang malah pada pake penitinya di kepala?”
“Hehe iya juga ya, Dek...” Hilda tertawa menanggapi celotehan adiknya yang masih duduk di bangku kelas 3 SD.
“Terus udah gitu pakenya berbelit-belit lagi, ditarik ke sana ditarik ke sini. Lifah aja pusing ngeliatnya, Kak. Kakak kok pakai jilbabnya masih biasa aja enggak di apa-apain, kan biar gaul Kak?” tanyanya polos.
“Hmm Kakak suka yang sederhana aja Dek, tau enggak kesederhanaan itu indah loh.” Jawab Hilda sembari tersenyum.
“Maksudnya apa, Kak?”
“Allah itu memang menyukai keindahan, tapi Allah tidak menyukai sesuatu yang berlebihan. Lagi pula, Ibu kan selalu mengajarkan kita tentang kesederhanaan, bukan begitu? Hayo diingat-ingat lagi nasihat Ibu?” Hilda pun menasihati adik kecilnya. Lifah'pun tersenyum malu.
“Ayo sana berangkat mengaji, tuh Pak Ustadnya sudah datang. Sini Kak Hilda pakaikan jilbabnya,” seru Hilda.
Setiap habis Ashar memang adalah waktunya Lifah mengaji di masjid. Hilda pun hendak memakaikan jilbab berwarna biru muda, yang tak lain merupakan warna kesukaan Lifah.
“Eits sebentar dulu Kak, awas pakein penitinya di leher bukan di kepala. Nanti Kak Hilda lupa lagi. Hehe.”
“Kan kata kamu tadi biar gaul?” goda Hilda.
“Gaul sih gaul, tapi ribet Kak. Nanti kalo habis wudhu mau solat maghrib, Lifah ga bisa pakainya lagi gimana kak? Hehe.”
“Adik kakak yang satu ini memang pintar,” Hilda mencubit kedua pipi Lifah gemas.
Tak lama kemudian Lifah'pun berangkat mengaji ke masjid dan terlihat tampak cantik dengan balutan jilbabnya yang kebesaran.
Kesimpulan: Jangan pernah takut dibilang ketinggalan zaman, selama kita merasa nyaman dengan apa yang kita kenakan, karena jadi diri sendiri itu jauh lebih menyenangkan :)
“Hehe iya juga ya, Dek...” Hilda tertawa menanggapi celotehan adiknya yang masih duduk di bangku kelas 3 SD.
“Terus udah gitu pakenya berbelit-belit lagi, ditarik ke sana ditarik ke sini. Lifah aja pusing ngeliatnya, Kak. Kakak kok pakai jilbabnya masih biasa aja enggak di apa-apain, kan biar gaul Kak?” tanyanya polos.
“Hmm Kakak suka yang sederhana aja Dek, tau enggak kesederhanaan itu indah loh.” Jawab Hilda sembari tersenyum.
“Maksudnya apa, Kak?”
“Allah itu memang menyukai keindahan, tapi Allah tidak menyukai sesuatu yang berlebihan. Lagi pula, Ibu kan selalu mengajarkan kita tentang kesederhanaan, bukan begitu? Hayo diingat-ingat lagi nasihat Ibu?” Hilda pun menasihati adik kecilnya. Lifah'pun tersenyum malu.
“Ayo sana berangkat mengaji, tuh Pak Ustadnya sudah datang. Sini Kak Hilda pakaikan jilbabnya,” seru Hilda.
Setiap habis Ashar memang adalah waktunya Lifah mengaji di masjid. Hilda pun hendak memakaikan jilbab berwarna biru muda, yang tak lain merupakan warna kesukaan Lifah.
“Eits sebentar dulu Kak, awas pakein penitinya di leher bukan di kepala. Nanti Kak Hilda lupa lagi. Hehe.”
“Kan kata kamu tadi biar gaul?” goda Hilda.
“Gaul sih gaul, tapi ribet Kak. Nanti kalo habis wudhu mau solat maghrib, Lifah ga bisa pakainya lagi gimana kak? Hehe.”
“Adik kakak yang satu ini memang pintar,” Hilda mencubit kedua pipi Lifah gemas.
Tak lama kemudian Lifah'pun berangkat mengaji ke masjid dan terlihat tampak cantik dengan balutan jilbabnya yang kebesaran.
Kesimpulan: Jangan pernah takut dibilang ketinggalan zaman, selama kita merasa nyaman dengan apa yang kita kenakan, karena jadi diri sendiri itu jauh lebih menyenangkan :)






